Monday, March 13, 2017

I Shall Seal the Heavens (Aku akan Menyegel Cakrawala) Bahasa Indonesia Chapter 2

I Shall Seal the Heavens (Aku akan Menyegel Cakrawala)

Pengarang: Er Gen

Chapter 2: Sekte Kepercayaan

Sekte Kepercayaan, terletak diperbatasan negara Zhao, dibagian sudut selatan dari benua Nanshan, dulunya merupakan salah satu dari empat sekte termasyur.  Walupun sekte ini masih terkenal di daerah selatan, tapi sudah mengalami kemunduran dalam tahun-tahun terakhir dan tidak dapat mempertahankan kejayaan yang dulu dimilikinya . Saat ini, dibandingkan dengan sekte lain di negara Zhao, sekte ini hanya bisa dikatakan ada diurutan  bawah.

Sebenarnya, sekte ini dulunya tidak bernama sekte Kepercayaan. Tetapi seribu tahun lalu, seorang pendekar muncul yang menyebabkan sensasi besar didaerah selatan. Dia menyebut dirinya Pemimpin Kepercayaan, dan memaksa untuk mengganti nama sekte menjadi seperti sekarang ini. Dia menginjak-injak seluruh sekte lain di negara Zhao, menjarah harta pusaka mereka, bertahan tak tertandingi selama beberapa lama.

Tetapi keadaan berbeda sekarang. Pemimpin Kepercayaan sudah menghilang hampir 400 tahun. Jika bukan karena fakta bahwa orang tidak tahu dia hidup atau mati , sekte Kepercayaan sudah ditelan oleh sekte lain yang lebih kuat. Sekte ini sudah melewati masa kejayaannya. Memikirikan kurangnya sumber daya di negara Zhao, dan tekanan dari tiga sekte lain, jika mereka ingin merekrut anggota baru, mereka terpaksa harus menculik orang-orang untuk dijadikan pelayan. Tidak mungkin mereka dapat membuka pintu sekte mereka secara terbuka untuk merekrut anggota sekte baru.

Meng Hao mengikuti pria berjubah hijau menapaki jalur kecil diantara puncak-puncak gunung. Daerah sekitar layaknya sebuah taman, dengan batu-batu anuh dan pohon berbentuk ganjil dimana-mana. Diantara pemandangan yang indah, bangunan-bangunan yang dihias mewah dengan atap genteng dari batu giok berdiri tegak diantara awan dan kabut. Meng Hao mendesah berulang kali. Sedihnya, si remaja gendut disebelah nya meratap sepanjang waktu, merusak suasana.

“Aku berakhir, benar-benar berakhir…. Aku ingin pulang kerumah,” gumam si remaja gendut, air mata mulai membasahi wajahnya. “ada kue mantou menunggu dirumah, dan ikan. Kurang ajar, kurang ajar. Aku ingin mewarisi lahan keluarga, menjadi orang tua kaya, dan memiliki beberapa selir. Aku tak ingin menjadi pelayan disini.”

Dia bergumam sambil sesenggukan selama waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan setengah cangkir teh, sampil si pria berjubah hijau menoleh. “ Jika kau menyemburkan omong kosong lagi,” katanya dingin, “Aku akan memotong lidah mu.”
Si remaja gendut tiba-tiba bergetar dengan kencang, matanya bersinar dengan rasa takut, tetapi dia menutup mulutnya.

Ketika dia melihat ini, Meng Hao mulai mempertimbangkan kembali bisa saja situasi ini menjadi indah tetapi malah sebaliknya. Tetapi dia memiliki kepribadian yang gigih, jadi dia mengambil napas panjang dan tetap diam.

Beberapa saat kemudian, ketika mereka mencapai setengah jalan di atas gunung, Meng Hao melihat sebaris bangunan datar mencuat diantara kabut.

Tujuh atau delapan pemuda mengenakan jubah rami duduk diluar bangunan. Mereka terlihat kelelahan. Sambil Meng Hao dan yang lainnya mendekat, pemuda-pemuda itu memperhatikan mereka, tetapi tidak mengucapkan sedikitpun salam.

Tidak jauh, tampak seorang pemuda mengenakan jubah biru muda duduk diatas tebing. Wajahnya panjang, mirip seekor kuda, dan jubahnya jelas nampak lebih mahal dan indah dari yang dipakai oleh pemuda lain. Walaupun wajahnya dingin, ketika pria berjubah hijau datang mendekat membawa Meng Hao, pemuda itu berdiri dan memberi hormat padanya sambil melikukkan tinjunya.

“Hormat, kakak tertua.”

“Mereka adalah pelayan baru,” kata si pria berjubah hijau dengan tidak sabar. “ Tolong atur akomodasi mereka.” Setelah itu, dia berbalik dan pergi, bahkan sekilas pun tidak menatap kearah Meng Hao dan pemuda lainnya.

Setelah dia pergi, pemuda berwajah kuda duduk kembali, bersila dan dengan dingin memandang kearah Meng Hao dan si remaja gendut.

“Ini adalah daerah pelayan utara,” katanya dingin, tanpa emosi. “Sekte Kepercayaan tidak membutuhkan pemalas. Sekarang karena kalian sudah disini, kalian akan bekerja selama tiga puluh tahun, setelah itu baru kalian boleh meninggalkan tempat ini. Jika kalian mencoba kabur, mmm, ada banyak hewan liar di gunung-gunung itu, dan kalian pasti akan mati. Ini ambil seragam kerja kalian. Mulai sekarang, kalian terisolasi dari dunia manusia biasa, dan akan bekerja secara damai sebagai pelayan.”

Si remaja gendut  tambah gemetaran, wajah nya penuh dengan keputus asaan. Meng Hao tetap tenang. Bahkan, dalam dimatanya nampak kilauan yang tak dapat digambarkan. Pria berwajah kuda menyadarinya. Dia sudah mneduduki posisi ini selama bertahun-tahun, dan sudah melihat banyak pemuda ditangkap untuk menjadi pelayan, tetapi belum pernah melihat yang setenang  Meng Hao.

“Jika kalian punya perangai yang baik,” katanya ringan, “kalian bisa saja tidak perlu bekerja selama tiga puluh tahun penuh. Kalian bisa berlatih kanuragan disela waktu istirahat. Jika kalian berhasil mencapai Kondensasi Qi tingkat pertama, lalu kalian akan dipromosikan menjadi murid luar sekte.” Dia mengibaskan lengan baju lebarnya, lalu dua jubah rami muncul didepan Meng Hao dan remaja gendut. Didepan tiap-tiap jubah ada sebuah lencana kayu seukuran jempol, bertuliskan “Pelayan.”

Tambahan lagi, selain jubah itu, ada juga sebuah buku kecil, di sampulnya tertulis tiga buah kata: “Pedoman Kondensasi Qi.”

Segera setelah Meng Hao membaca kata-kata itu, dia mulai bernapas berat. Dia menatap buku kecil itu dan mengingat kembali pembicaraan pria berjubah hijau, membicarakan wanita berwajah dingin, pria-pria berjubah hijau menyebutkan tentang Kondensasi Qi tingkat ketujuh.

“Kita bisa menjadi murid luar sekte ketika kita mencapai tingkat satu, tatapi wanita itu sudah mencapai tingkat tujuh … apa itu Kondensasi Qi? Mungkin itu cara untuk menjadi seorang yang abadi, seperti yang mereka bilang dicerita dongeng.”

Jika ini lah bayaran atas pekerjaanya, baiklah, mungkin ini bukan uang, tetapi ini akan seharga 100 keping emas di luar sana. Meng Hao bertambah semangat. Dia mengambil jubahnya dan menggunakannya untuk membungkus lencana dan buku kecil itu.

“Rumah ketujuh disebelah timur, disitu kau tinggal. Mulai besok, pekerjaan kalian adalah memotong kayu. Sepuluh batang perorang, setiap hari. Kalian tidak diijinkakan untuk makan sampai selesai memotong kayu.” Dia lalu menutup matanya.

Bernapas dalam, Meng Hao meniru si pemuda dan memberi hormat dengan melikukkan tinjunya, lalu berjalan kearah rumah, diikuti oleh si remaja gendut. Bangunan itu adalah tempat tinggal berbentuk siheyuan dengan halaman yang sudah diperluas berkali-kali. Mengikuti petunjuk yang ada, mereka menemukan rumah ketujuh, lalu membuka pintunya dan masuk.

Ruangannya tidak besar. Berisi sebuah meja dan dua tempat tidur kecil, dan walaupun sederhana, cukup bersih dan rapi. Remaja gendut duduk disalah satu tempat tidur, lalu, tidak dapat menahan lagi tangisnya pun mulai meledak.

Dia berusia sekitar 12 atau 13 tahun, dan dia menangis sangat keras. Pasti suaranya menggema sampai keluar.

“Ayahku adalah tuan tanah, dan aku seharusnya jadi seorang tuan tanah juga. Aku seharusnya bukan jadi pelayan.” Dia sepertinya benar-benar putus asa, dan tubuh kecil tambunnya bergetar.

“Berhenti menangis,” kata Meng Hao, mencoba untuk menenangkannya. “Coba pikir. Tidak terlalu buruk kok berada disini. Kita bekerja untuk orang-orang abadi. Berapa banyak orang yang akan iri pada kita jika mereka tahu?” Dia dengan cepat menutup pintu.

“Aku tak mau bekerja untuk orang lain,” dia menjawab. “Pernikahanku sudah diatur dan kado pertunangan sudah dikirim. Wanita ku yang malang belum menikahiku, tapi sudah menjadi janda.” Bertambah kuat tangisnya, bertambah patah hati juga dia

Suatu ekspresi aneh muncul di wajah Meng Hao. Remaja gendut ini masih muda, pikirnya, aku tak percaya dia sudah ditunangkan dengan seorang wanita untuk menjadi istrinya, bahkan dia pasti belum pernah merasakan sentuhan tangan seorang wanita. Dia membuang napas panjang, betapa menakjubkannya jadi orang kaya pikirnya. Keluarga remaja gendut ini sangat kaya sehingga dia tidak perlu khawatir tentang makanan atau pakaian. Sedangkan aku tak punya apa-apa. Bahkan setelah menjual rumah warisan ku tahun lalu, aku masih berhutang banyak uang pada pelayan Zhou.

Memikirkan uang yang belum dilunasinya membuatnya tertawa. Sekarang karena dia disini, Zhou bisa datang menagih uang itu jika dia cukup kuat, jika tidak, dia mungkin sudah mati ketika Meng Hao keluar dari sekte.

Bertambah keras dia berpikir tentang tempat ini, bertambah senang hatinya. Dia tidak perlu memikirkan tentang uang, tempat tinggal atau makanan. Dia bahkan mendapat bayaran senilai ratusan keping emas, dan itu bahkan sebelum ia mulai bekerja. Berpikir bahwa ini adalah tempat tinggal orang-orang abadi, bisa dikatakan bahwa dia tanpa sengaja telah diselamatkan dari kehidupannya yang mengenaskan.

Tangisan si remaja gendut mulai membuatnya gusar. Mencoba tidak menghiraukannya, dia mengambil buku pedoman dari dalam jubah raminya dan mulai membaca. Setelah membaca baris pertama dari halaman pertama, dia merasa terkejut.

“Seseorang harus punya sesuatu untuk bergantung. Jika kau seorang manusia biasa yang menginginkan kekayaan dan jabatan, jika kau seorang pendekar yang menginginkan hidup yang bebas dari kekhawatiran, bergabunglah dengan sekte Kepercayaan ku. Kau bisa bergantung pada ku.” Itu adalah pengantar dari pedoman itu,dan ditandatangani oleh Pemimpin Kepercayaan sendiri.

Walaupun itu hanya beberapa buah kata, tetapi dipenuhi oleh kekuatan yang tak tergambarkan. Itu bermakna sebuah undangan dan gambaran kekuatan dari sekte Kepercayaan. Meng Hao merasa kaku, dan lalu, segala hal mendadak masuk akal.

“Sekte Kepercayaan. Apakah ini arti dari sekte? Orang-orang harus bergantung pada sesuatu untuk bertahan; ketika mereka bergabung dengan sekte Kepercayaan, mereka akan menjadi kaya, berkuasa dan bebas dari kekhawatiran.” Ini bertambah masuk akal saja. Dia menyadari bahwa jika dia memiliki seorang pejabat untuk menjadi bekingannya, dia tidak akan gagal ujian tiga kali berturut-turut . dia mendesah, rasa hormatnya bertambah pada Pemimpin Kepercayaan, yang dia sebenarnya belum pernah temui sama sekali. Dengan satu kalimat itu, sepertinya sebuah pintu dalam hidupnya tiba-tiba terbuka.

“Dengan kata lain, aku harus menemukan seseorang untuk bergantung selama aku disini. Jika aku berhasil, aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun.” Matanya bertambah terang sembari dia melanjutkan membaca pedoman itu. Segera, dia lupa waktu, dan tidak menyadari bahwa si remaja gendut masih menangis keras disampingnya.

Si remaja gendut menangis sendiri dalam tidurnya ditengah malam, sampai akhirnya berganti suara dengkurnya yang mulai  membahana seperti guntur. Meng Hao dengan tidak ikhlas akhirnya menutup manual. Walaupun dia merasa sangat lelah, matanya dipenuhi oleh semangat dan energi.

“Buku ini tidak senilai dengan 100 emas, ini senilai 1000!” dia berkata pada dirinya. Untuk seseorang yang selalu bermimpi untuk menjadi pejabat yang kaya, sesuatu yang senilai 1000 emas sangatlah berharga lebih dari apapun kecuali hidupnya.

Dalam kebersemangatannya, dia menyadari bahwa dengkuran si remaja gendut sudah berhenti. Dia melihat pemuda itu duduk ditempat tidur dan mengayunkan lengannya sambil mengomel.

“Aku akan menghajarmu sampai mati! Beraninya kau mencuri mantou! Aku akan mengigitmu sampai mati! Beraninya kau mencuri istriku!” Sambil dia berbicara, dia beranjak dari tempat tidur, matanya masih tertutup, mengayunkan tinjunya dengan marah. Lalu yang menakjubkan adalah, dia mulai menggenggam meja dan mengigit keras-keras sudutnya dengan mulutnya, sampai meninggalkan bekas gigitan. Lalu dia kembali tidur dan mulai mendengkur.

Meng Hao memperhatikannya sebentar, hanya untuk mengkonfirmasi bahwa dia memang sedang tidur sambil berjalan saat ini. Lalu dia melihat lagi ke arah bekas gigitan, dan menyadari bahwa dia tidak boleh menantang remaja gendut itu saat dia sedang tidur. Dia bergeser darinya, lalu melihat kearah buku pedoman lagi, merasa bersemangat.

“Kondensasi Qi tingkat sembilan adalah jalan untuk menjadi abadi. Bekerja untuk mereka, aku punya kesempatan untuk menjadi abadi juga. Itu adalah bayaran terbesar yang bisa kudapatkan. Jika aku menjadi abadi, aku pasti punya kesempatan untuk menjadi kaya nantinya.” Meng Hao mencengkram buku pedoman, matanya bersinar dengan terang. Dia akhirnya menemukan cara yang lain untuk menjadi kaya selain dengan belajar dan ikut ujian.

Pada saat itu, “Banngg” suara pintu ditendang dengan keras, dan suara “harumph” jelas terdengar.


No comments:

Post a Comment