Sunday, March 12, 2017

I Shall Seal the Heavens (Aku akan Menyegel Cakrawala) Bahasa Indonesia

I Shall Seal the Heavens (Aku akan Menyegel Cakrawala)
Pengarang: Er Gen
“Aku akan menyegel cakrawala” adalah salah satu cerita beraliran xianxia yang populer di Cina. Telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh deathblade di wuxiaworld.com, kisah ini menceritakan tentang seorang pelajar muda yang gagal bernama Meng Hao, yang terpaksa mengikuti sekte pendekar abadi. Di dunia pendekar, yang kuat memangsa yang lemah, yang dipakai adalah hukum rimba. Meng Hao harus beradaptasi untuk bertahan. Dan meskipun begitu, dia tidak pernah lupa ajaran confucius dan daois yang dia dalami. Ditambah lagi dengan kepribadiannya yang keras kepala, menuju jalan menjadi pahlawan sejati. Apa arti dari “menyegel cakrawala?” ini adalah rahasia yang kamu akan ungkap bersama Meng Hao!
Chapter 1: Pelajar Meng Hao
Negara Zhao adalah sebuah negara kecil. Seperti negara kecil lainnya di Benua Nanshan, penduduknya mengagumi negeri Tang yang masyur  didaerah timur, dan mereka mengagumi kotanya, Chang’an  . Tidak hanya sang raja, seluruh pelajar di negeri ini pun juga sama. Mereka dapat melihat kota tersebut, hampir seolah mereka sedang berdiri diatas Menara Tang di ibukota, oh betapa jauhnya.
Bulan April kali ini tidak terlalu dingin dan juga tidak terasa panas menyengat. Angin lembut bertiup didaratan, menghantarkan suara seruling Qiang Di padang pasir utara, bertiup diseluruh daratan Tang yang masyur. Dibawah langit yang temaram, menghantarkan kabut berdebu, lalu memutar, memilas hingga mencapai gunung Daqing di negara Zhao. Lalu jatuh menuju seorang pemuda yang duduk disana diatas puncak gunung.
Dia adalah seorang pemuda yang ramping, menggenggam sebuah botol kundur dan memakai sebuah jubah pelajar biru yang tampak bersih. Dia terlihat berumur sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Dia tidak tinggi, dan kulitnya agak gelap, tapi matanya yang terang tampak berkilau oleh kecerdasan. Akan tetapi, seluruh kecerdasannya sepertinya  tersamarkan oleh wajahnya yang mengkerut. Dia tampak tersesat.
“Gagal lagi…”Gumamnya. Namanya adalah Meng Hao, seorang pelajar biasa dari wilayah Yunjie, yang terletak dikaki gunung. bertahun-tahun yang lalu, kedua orang tuanya menghilang, dan tidak meninggalkan banyak harta. Pendidikan sangat mahal, hingga dia hampir benar-benar jatuh miskin.
“Aku sudah mengikuti ujian kekaisaran sebanyak tiga kali berturut-turut. Selama itu, aku sudah membaca buku-buku yang ditulis oleh orang bijak hingga rasa ingin muntah. Mungkin ini memang bukan jalan untukku.” Dipenuhi dengan rasa pengutukan diri, dia melihat kearah botol kundur, matanya suram.
“Mimpiku untuk jadi pejabat dan menjadi kaya raya serasa bertambah jauh saja. Aku juga sebaiknya melupakan mencoba untuk mencapai negeri Tang yang masyur… Betapa tak bergunanya menjadi seorang pelajar.” Dia tertawa dengan pahit. Duduk disana dipuncak gunung yang sunyi, menatap botol kundur ditangannya, dia terlihat bertambah tersesat. Dia mulai merasa takut.  Apa yang akan dia lakukan dimasa depan?kemana dia akan pergi?
Mungkin seorang pejabat tinggi akan tertarik padanya, atau bahkan seorang gadis muda yang cantik. Ataukah dia akan terus mengikuti ujian kekaisaran setiap tahun?
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dia hanyalah seorang pemuda, dan perasaan merasa tersesat ini sudah melahapnya layaknya mulut raksasa yang tak terlihat. Dia benar-benar merasa takut.
“Bahkan guru-guru di kota hanya dapat menghasilkan beberapa potong perak. Itu jauh lebih sedikit dari toko tukang kayu paman Wang. Jika saja aku menyadarinya lebih awal, aku bisa belajar tehnik bertukang darinya. Setidaknya aku tidak akan kelaparan seperti sekarang.” Dia terdiam sebentar.
“Aku tidak punya banyak makanan ataupun uang tersisa dirumah. Aku berhutang pada pelayan Zhou tiga potong perak. Apa yang akan kulakukan?” Dia mendongakkan kepalanya dan melihat kelangit, biru dan agung. Langit tampak sangat luas hingga batasnya pun tak terlihat. Tampak benar-benar sama dengan nya yang tak bisa melihat masa depannya.
Beberapa saat kemudian, Meng Hao menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan secarik kertas dari jubahnya. Dia baca perlahan, lalu kertas tersebut dimasukkan kedalam botol, sambil dia berdiri dan melempar botol tersebut kebawah gunung.
Dibawah gunung tersebut terdapat sebuah sungai besar yang tidak pernah membeku selama musim dingin, dan katanya mengalir sampai kenegeri Tang yang masyur.
Meng Hao berdiri dipuncak gunung, menonton botol kundur yang hanyut jauh mengikuti arus sungai. Dia menatap tidak berkedip. Untuk sesaat, dia seperti melihat ibunya, dan masa-masa bahagia masa kecilnya. Botol kundur itu membawa mimpi-mimpinya, keinginannya, dan harapannya untuk masa depan. Mungkin suatu hari seseorang akan mengambil botol itu, membukanya dan membaca catatan itu.
“Terserah apapun yang aku lakukan, baik itu belajar ataupun bekerja, aku akan tetap menjalani hidup.” Ini adalah kepribadiannya: cerdas dan bertekad bulat. Jika dia tidak seperti itu, dia tidak akan bisa bertahan setelah orang tuanya pergi.
Dia mengangkat kepalanya kearah langit, tatapan keras kepala di matanya bertambah dalam. Dia akan menuruni gunung.
Pada saat yang sama, dia mendengar suara lemah datang dari sekitar jurang. Suara itu seperti berbaur bersama angin. Ketika suara itu melewati telinga Meng Hao, benar-benar terlalu redup untuk didengar.
”Tolong… tolong…”
Meng Hao berhenti sesaat, terkejut, lalu mendengarkan dengan seksama. Ketika dia berkonsentrasi, suara minta tolong itu terdengar semakin jelas.
“Tolong…”
Dia berjalan beberapa langkah kedepan hingga dia hampir mencapai tepi jurang. Ketika dia mengamati ditepi jurang, dia melihat seseorang, tubuhnya menempel keluar dari celah jurang. Wajah pucat penuh rasa takut dan  putus asa, dia berteriak minta tolong.
“Kau… kau Meng Hao, kan? Tolong, Pelajar Meng! Tolong aku!” ternyata dia adalah seorang remaja. Segera setelah dia melihat Meng Hao, dia merasa terkejut dan gembira, karena menemukan harapan dalam situasi putus asa tersebut.
“Wang Youcai ?” Mata Meng Hao’ melebar ketika dia melihat si pemuda. Dia adalah anak lelaki paman Wang, yang memiliki toko kayu di kota. “Bagaimana kau bisa berakhir disini?”
Meng Hao melihat kearah celah. Jurang itu sendiri juga cukup curam, dan sepertinya tidak mungkin untuk menuruninya. Sedikit saja kecerobohan akan megirim pemanjatnya jatuh ke sungai.
Mengingat kuatnya arus sungai, jika jatuh ke sungai, kemungkinan tenggelam sekitar sembilan puluh persen.
“Tidak hanya aku, ada beberapa orang lain dari kota sekitar,” ucap Wang Youcai. “Kami semua tersangkut disini. Saudara Meng, tolong jangan hanya berbicara, tolong kami keluar.” Mungkin dia sudah tergantung di celah terlalu lama. Tangannya menggengam di udara, dan jika saja bukan karena teman senasibnya, yang menggenggam pakaiannya, dia sudah tergelincir dan jatuh ke jurang. Wajahnya berubah pucat karena ketakutan.
Meng Hao menyadari bahayanya. Tetapi dia sudah memanjat gunung sendirian hari ini, dan tidak punya tali. Bagaimana dia bisa menyelamatkan mereka? Pada saat itu, dia berbalik dan menyadari bahwa sisi gunung di tutupi oleh akar-akar rotan.
Karena kelemahannya, butuh waktu dua jam baginya untuk menemukan rotan yang cukup panjang. Dengan napas terengah, dia menyeret akar rotan itu kejurang. Sambil memanggil nama Wang, dia membungkuk dan menurunkan rotan tersebut ke bawah jurang.
“Kau masih belum memberitahuku bagaimana kau bisa berada dibawah sana,” Kata Meng Hao sambil dia mengulur akar rotan.
“Dengan terbang!” Bukan Wang Youcai yang menyahut, tetapi pemuda lain yang tersangkut di celah disampingnya. Bocah ini terlihat cerdas dan bersemangat, dan berbicara dengan suara keras.
“Omong kosong! Kau bisa terbang?” olok Meng Hao, sambil menarik akar rotan keattas sedikit demi sedikit. “Jika kau bisa terbang kebawah sana, lalu kenapa kau tidak terbang kembali keatas?”
“Jangan dengarkan omong kosongnya,” kata Wang Youcai, jelas-jelas bimbang kalau Meng Hao tidak akan menurunkan akar rotan kebawah. “Kami ditangkap oleh seorang wanita terbang. Dia bilang dia akan membawa kami ke suatu sekte untuk menjadi pelayan.”
“Omong kosong lagi?” kata Meng Hao dengan acuh. “Hanya orang abadi dalam legenda yang bisa melakukan itu. Siapa yang akan percaya?” Dalam buku yang sudah dibacanya, ada cerita tentang orang yang menjadi kaya setelah bertemu orang abadi, tetapi itu semua hanya kebohongan.
Ketika rotan mencapai celah, Wang menangkapnya. Tetapi lalu, Meng Hao tiba-tiba merasakan ada angin dingin dipunggungnya. Dari suhu disekitarnya, serasa seperti musim dingin telah kembali. Dia menggigil. Dia perlahan menoleh kebelakang, lalu berteriak dan melangkah kedepan kearah kekosongan, lalu jatuh kejurang.
Dia melihat seorang wanita dengan jubah perak panjang dan wajahnya yang pucat, berdiri disana menatap kearahnya. Tidak mungkin untuk memperkirakan usianya. Dia sangat cantik, tetapi memancarkan aura dingin yang membuat seseorang merasa dia baru saja merangkak keluar dari kuburan.
“Kadang-kadang jika kau menemukan sesuatu dengan kualitas tertentu, itulah nasib.”
Ketika suara tersebut mengenai telinganya, serasa seperti suara tulang yang bergesekkan. Wanita ini seperti memiliki suatu kekuatan aneh, dan ketika Meng Hao melihat kedalam matanya, seluruh tubuhnya serasa dingin seperti es, seperti wanita itu dapat melihat kedalam dirinya. Serasa dia tak dapat menyembunyikan apapun dari wanita itu.
Suaranya masih mengambang diudara, dia mengguncang lengan bajunya yang lebar, dan tiba-tiba, sebuah hembusan angin kehijauan menyambut Meng Hao. Dia terbang kebawah jurang dengannya. Pikirannya mendadak kosong.
Ketika mereka mencapai celah, wanita itu melambaikan tangannya dan melemparkannya kedalam. Sedangkan wanita itu, dia berhenti bergerak, begitu juga angin hijau tersebut. Wang and ketiga temannyaburu-buru berbalik sambil ketakutan.
Wanita itu berdiri disana, tanpa sepatah kata pun. Dia mengangkat kepalanya dan menatap kearah akar rotan.
Meng Hao sangat gugup hingga dia mulai gemetaran. Dia lalu berdiri, melihat sekilas kearah sekeliling. Celah itu tidak terlalu luas, dan cukup sempit malah. Bahkan hanya untuk beberapa orang didalam, tidak ada cukup tempat.
Pandangan matanya jatuh ke araha Wang dan dua orang pemuda lain. Satunya adalah si pintar; sedangkan satunya tampak bersih dan gemuk. Keduanya menggigil, terlihat seperti mereka akan menangis kapan saja karena takut.
“Aku kekurangan satu orang lagi,” kata si wanita pucat.  Sekarang dia melihat kearah Meng Hao daripada kearah rotan. “aku akan meletakkanmu kedalam bersama mereka”
“Siapa kau?” tanya Meng Hao, menutupi ketakutannya. Dia adalah seorang yang terpelajar dan memiliki kepribadian yang kuat. Walaupun merasa takut, dia mengontrol dirinya dan tidak panik.
Wanita itu tidak berkata apapun. Dia mengangkat tangan kanannya dan melambai, dan angin kehijauan muncul kembali. Lalu mengangkat semua pemuda itu, lalu mereka keluar dari sana bersama wanita itu, terus terbang tinggi kearah langit. Mereka menghilang. Yang tersisa hanyalah gunung Daqing. Yang berdiri disana, tegak dan tinggi, membaur dalam kegelapan yang temaram.
Darah mengering dari wajah Meng Hao.  Dia melihat dirinya didalam angin hijau, melintasi langit. Bersamaan dengan dia terbang, angin bertiup kedalam mulutnya, membuat nya tidak bisa bernapas. Sebuah kata muncul didalam benaknya.
“Orang abadi?” Dia menahan napasnya selama kira-kira bernapas normal sebanyak sepuluh kali, sampai dia tidak mampu bertahan lagi. Lalu dia pingsan.
Ketika dia membuka matanya, dia menemukan bahwa mereka telah mendarat diatas sebuah podium berubinkan batu hijau, sampai setengah jalan menuju kearah gunung. Mereka dikelilingi oleh gunung yang memutari mereka. Awan dan kabut mengapung dimana-mana; ini jelas bukan dunia manusia biasa. Puncak-puncak gunung yang indah disekitar terlihat sangat aneh.
Wang dan pemuda lainnya terbangun, ketakutan dan gemetaran. Mereka menatap kearah punggung si wanita.
Berdiri dihadapannya dua orang pendekar memakai jubah hijau panjang. Mereka tampaknya berusia dua puluhan. Mereka memiliki mata cekung dengan pupil hijau yang mengilhamkan rasa takut.
“Kerja yang bagus, kakak Xu,” kata salah seorang dari mereka, suaranya menyanjung. “Kau menemukan empat orang bayi muda yang berbakat.”
“Bawa mereka ketempat tinggal pelayan” kata si wanita, wajahnya dingin, tanpa melihat kearah Meng Hao dan yang lain. Tiba-tiba, seluruh tubuhnya berubah. Dia menjadi pelangi lalu menghilang diantara pegunungan.
Saat ini, Meng Hao sudah memulihkan ketenangannya. Dia menatap, kaku, kearah tempat wanita itu menghilang. Sebuah ekspresi muncul diwajahnya yang belum pernah muncul selama enam belas tahun. Darahnya mendidih.
“Pelayan?” Pikirnya. “Jika bekerja untuk  orang abadi, bayarannya pasti bagus.” Sekarang dia tahu orang-orang itu tidak ingin membunuh mereka, dia pun mencoba melanjutkan hidupnya.
“Kak Xu sudah mencapai Kondensasi Qi level ketujuh,” ratap pendekar kedua. “Pendeta Sekte menganugrahkan sebuah panji angin padanya, yang berarti walaupun dia belum mencapai tahap Pendirian Fondamen, dia sudah bisa terbang.” Dia melihat dengan sombong kearah Meng Hao dan lainnya.
“Kau dan kau,” dia berkata sambil menunjuk Wang dan si pemuda pintar. “Ikuti aku ke tempat tinggal pelayan di bagian selatan.”
“Tempat apa ini?” tanya Wang, suara dan tubuhnya gemetaran saat orang abadi menunjuk kearahnya.
“ Sekte Kepercayaan.”

No comments:

Post a Comment