Tuesday, March 14, 2017

I Shall Seal The Heaven (Aku akan Menyegel Cakrawala) bahasa indonesia chapter 3

Author : Er Gen

Chapter 3: Promosi Menjadi Murid Luar Sekte

“Masih terlalu awal untuk kalian tidur. Sekarang waktunya bangun untuk Kakek Macan!” Daun Pintu bergoncang saat dibuka, tampak seorang pria berjubah pelayan, tinggi dan gagah  masuk. Dia melotot tajam kearah Meng Hao dan si remaja gendut.

“Mulai hari ini,” dia berkata dengan marah, “kalian dua cecunguk akan menebang sepuluh batang pohon setiap hari untukku. Jika tidak, Kakek Macan akan menguliti kalian hidup-hidup.”

“Hormat kami, Kakek Macan,” kata Meng Hao, bergegas beranjak dari tempat tidur dan berdiri dengan gugup. “Mungkin kau bisa pelan se…” Sebelum dia menyelesaikan pembicaraannya, si pria besar menatap padanya.

“Pelan kentutmu! Kau pikir aku berbicara terlalu keras ha?”

Melihat wajah bengisnya dan perawakannya yang besar, Meng Hao ragu, lalu berkata, “Tetapi… abang tertua yang mengurusi para pelayan sudah menugasi kami untuk memotong sepuluh pohon perhari.”

“Tambah saja lagi sepuluh batang untukku ,” katanya dengan sinis.

Walaupun Meng Hao tidak mengatakan apapun, dia memutar otaknya. Dia baru saja tiba di sekte manusia abadi, dan sudah diganggu. Dia tak mau mengalah, tetapi pria itu sangat besar dan kuat, dan dia sendiri jelas terlalu lemah, tak bisa melawan. Lalu dia melirik kearah meja, dan menyadari bekas gigitan. Teringat akan kuat nya si remaja gendut dalam keadaan tidur berjalan, dia mendapat inspirasi. Dia tiba-tiba berteriak kearah si remaja gendut yang sedang tidur.

“Gendut! Seseorang mencuri kue mantou dan gadismu!”

Segera setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, si remaja gendut duduk, dengan mata tertutup, berteriak, wajahnya berubah.

“Siapa yang mencuri mantouku? Siapa yang mencuri istriku?” teriaknya, melompat dari tempat tidur. “Kuhajar kau sampai mati! Aku gigit kau sampai mati!” Dia mulai memukul tak tentu arah di dalam ruangan. Si pria besar memandang dengan takjub, lalu melangkah kedepan bermaksud hendak menamparnya.

“Kau berani berteriak didepan Kakek Macan!” Tamparannya mendarat diwajah bocah itu, tapi kemudian si pria besar berteriak. Si remaja gendut, dengan mata yang masih tertutup, mengggigit lengan pria itu. Seperti apapun pria itu mengibaskan lengannya, bocah itu tetap tak bergeming.

“berhenti menggigitku, kurang ajar. Berhenti menggigit.” Pria ini adalah seorang pelayan, bukan pendekar. Dia sudah lama menjadi pelayan, dan tubuhnya kuat, tetapi sakitnya membuat nya sampai berkeringat dingin. Dia meninju dan menendang, tapi tetap tidak bisa membuat si remaja gendut mengendurkan rahangnya sedikitpun. Bertambah kuat pukulannya, bertambah kuat pula gigitan si bocah. Daging pria itu menjuntai, dan sepertinya sepotong dagingnya hampir terlepas.

Teriakannya sampai terdengar keluar, sehingga yang lain mulai menyadari. Sebuah suara dingin berteriak.

“Ribut-ribut apa ini?”

Itu adalah suara si pemuda berwajah kuda. Segera setelah si pria besar mendengarnya, dia mulai gemetar ketakutan. Meskipun nyeri nya hebat hingga wajahnya memuntir, dia menghentikan teriakannya.

“Ide yang buruk membuat abang tertua kesal,” kata si pria besar segera. “tak ada untungnya melanjutkan ini. Cepat, berhenti menggigitku! Aku tak butuh sepuluh batang kayu.”

Meng Hao tidak pernah membayangkan mimpi si remaja gendut begitu dalam, dan juga ingin menghentikan keadaan ini. Dia melangkah kedepan dan menampar dengan ringan si remaja gendut, lalu membisikkan sesuatu.

“Kue mantounya sudah kembali, begitu juga dengan istrimu.”

Si pemuda kemudian menjadi lebih santai dan melepaskan gigitannya. Tetap meninju tak tentu arah diudara, dia kembali ke tempat tidur, wajahnya berlumuran darah, lalu jatuh tertidur.

Melihat sekilas kearah si remaja gendut, si pria besar lalu pergi tanpa sepatah katapun.

Meng Hao berdiri melongo, mengagumi si remaja gendut, lalu perlahan kembali ke tempat tidur dan melanjutkan tidurnya.

Keesokan paginya saat shubuh.

Sembari mentari pagi mewarnai langit, suara lonceng memenuhi udara. Seperti membawa suatu kekuatan aneh; ketika orang-orang mendengarnya, mereka pun bangun dan mulai bekerja. Si remaja gendut bangun tidur. Dia melihat dengan kosong kearah bekas-bekas di tubuhnya. Dia menyentuh wajahnya.

“Apa yang terjadi tadi malam? Kok seluruh tubuhku sakit? Apa ada yang memukuliku?”

Meng Hao berpakaian dengan tenang kemudian berkata.

“Tidak terjadi apa-apa. Semuanya sepertinya biasa saja.”

“Kok wajahku rasanya bengkak?”

“Mungkin karena nyamuk.”

“Lalu bagaimana bisa mulutku berdarah?”

“Kau jatuh dari tempat tidur tadi malam. Beberapa kali, sebenarnya.” Meng Hao membuka pintu dan melangkah keluar, lalu berhenti dan menoleh kebelakang. “Oh iya gendut” katanya dengan nada serius, “coba kau asah gigimu lebih sering, agar lebih tajam.”

“Oh ya? Ayahku juga mengatakan hal yang sama,” katanya terkejut, dengan hati-hati memasang jubahnya.

Meng Hao dan si remaja gendut berjalan keluar kearah cahaya matahari dan memulai hidup mereka sebagai pelayan di Sekte Kepercayaan, menebang pepohonan.

Setiap orang bertanggung jawab memotong sepuluh pohon. Disekitar tempat tinggal pelayan di utara, lereng belantaranya dipenuhi oleh pepohonan. Walaupun pohon-pohonnya tidak besar, tetapi sangat rapat dan tersebar luas sejauh mata memandang.

Membawa kapaknya, Meng Hao menggosok bahunya. Lengannya terasa kaku serta sangat sakit. Kapaknya berat. disampingya, si remaja gendut terengah-engah sambil terus mendaki. Akhirnya, mereka menemukan tempat yang cocok, dan suara kapak membelah kayu bersahutan sembari mereka mulai bekerja.

“Ayahku sangat kaya,” kata si remaja gendut memonyongkan wajahnya. Dia mengangkat kapaknya. “Aku akan kaya raya juga. Aku tak mau jadi pelayan… Orang-orang abadi itu aneh, kan mereka punya sihir. Untuk apa mereka butuh api? Dan kenapa mereka membutuhkan kita untuk memotong kayu untuk mereka”

Tak seperti si remaja gendut yang asik mengomel, Meng Hao terlalu capek untuk bicara. Peluh membasahinya seperti hujan. Karena kemiskinannya di daerah Yunjie, dia jarang dapat makan daging, sehingga tubuhnya lemah. Dia tidak punya banyak tenaga. Setelah habis waktu separuh dupa terbakar, dia bersandar ke sebatang pohon, bernapas tersengal.

Dia melihat ke arah si remaja gendut, yang, walaupun dia sangat lelah hingga gemetaran, dia terus saja mengutuk dan terus memotong batang pohon. Dia lebih muda dari Meng Hao, tapi jauh lebih kuat.

Meng Hao menggelengkan kepalanya dengan pahit lalu terus beristirahat. Dia mengambil Pedoman Kondensasi Qi dan mempelajarinya kembali. Mengikuti petunjuk di pedoman, dia mencoba untuk merasakan energi spiritual langit dan bumi.

Waktu pun berlalu, dan hari mulai sore. Dihari pertama dia bekerja, Meng Hao berhasil menebang dua pohon. Si remaja gendut berhasil memotong delapan. Dengan menggabungkan hasil kerja mereka, cukup untuk salah satu dari mereka makan. Mereka bermusyawarah sejenak, dan kemudian si remaja gendut pergi untuk mengambil jatah makanan yang nantinya akan mereka bagi di kamar. Lalu mereka jatuh tertidur, kelelahan.

Walaupun diwarnai dengkuran si remaja gendut yang memenuhi ruangan, dan Meng Hao berusaha untuk duduk, matanya penuh tekad. Tak menggubris rasa lapar dan lelahnyanya, dia mengambil pedoman Kondensasi Qi dan mulai membaca.

“Ketika dulu aku belajar untuk ujian, aku biasa begadang untuk belajar sampai shubuh. Akupun terbiasa kelaparan. Sedangkan untuk hidupku sekarang, ini mungkin melelahkan, tapi setidaknya aku punya tujuan. Aku tak percaya setelah gagal di ujian kekaisaran, aku akan gagal dalam olah kanuragan.” Tekad bulat bersinar di matanya. Dia menundukkan kepalanya dan mulai belajar.

Dia terus belajar sampai larut malam, sampai akhirnya dia tertidur, kapan tepatnya dia tertidur, dia tidak tahu. Sembari dia tidur, mimpinya dipenuhi dengan pikiran untuk merasakan energi spiritual langit dan bumi. Suara lonceng membangunkannya dipagi hari. Dia membuka matanya yang merah, menguap, dan beranjak dari tempat tidur. Lalu, bersama dengan si remaja gendut yang penuh tenaga, kembali memotong kayu.

Sehari, dua hari, tiga hari,… waktu terus berjalan sampai dua bulan pun berlalu. Kemampuan Meng Hao memotong kayu bertambah hingga di mampu memotong empat batang pohon sehari. Tetapi kebanyakan waktunya dihabiskan untuk mencoba mengurai makna dari energi spiritual. Matanya bertambah merah. Lalu suatu siang menjelang sore, saat dia duduk bermeditasi, tubuhnya tiba-tiba bergetar, dan dia merasakan sensasi kesemutan dikakinya  . Lalu, serasa ada seuntai Qi yang memadat dalam daging dan darahnya, lalu keluar dari tubuhnya.

Setelah itu, dia merasakan seberkas energi spiritual muncul dalam dirinya. Kemudian segera menghilang, tetapi Meng Hao segera membuka matanya dengan bersemangat. Rasa lelahnya lenyap, dan matanya yang merah kembali memutih. Badannya bergetar, dia menggenggam pedoman Kondensasi Qi. Dia kurang tidur dan makan dalam beberapa bulan terakhir. Selain menebang pohon, dia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk energi spiritual, dan sekarang, akhirnya, dia mendapatkan hasil. Dia merasa dirinya penuh dengan energi.

Waktu berlalu cepat, dua bulan, dan sekarang bulan kedelapan dari tahun ini, musim panas. Cahaya mentari menyengat turun dari langit.

“Padatkan  Qi kedalam tubuh, gabung dan ratakan, buka jalur Qi dan pembuluh darah, beresonansi dengan langit dan bumi.” Sekarang tepat tengah hari jauh dalam pegunungan didekat sekte Kepercayaan. Meng Hao menggunakan satu tangan untuk menyalakan api unggun didepannya, dan tangan satunya menggenggam pedoman kondensasi Qi yang dia pelajari dengan tekun.

Dia menutup matanya selama waktu sebuah dupa habis terbakar, merasakan seberkas halus Qi dalam tubuhnya. Ini adalah Qi yang muncul dua bulan lalu, dan Meng Hao memperlakukannya bak harta karun. Berkas tersebut lebih tebal sekarang. Menggunakan jembatan keledai dan teknik sirkulasi yang dijelaskan di pedoman, membuat seberkas Qi tersebut mengalir diseluruh tubuhnya.

Tidak lama kemudian, Meng Hao membuka matanya dan melihat si remaja gendut mendekat dengan cepat, sambil membawa kapaknya.

“Bagaimana ?” engah si remaja sambil dia berlari. Walaupun gendut, tubuhnya kuat.

“Aku masih belum bisa mengalirkannya keseluruh tubuhku,” kata Meng Hao sambil tertawa. “Tapi aku cukup percaya diri bahwa dalam sebulan, aku akan berhasil mencapai kondensasi Qi tingkat satu.” Rasa percaya diri nampak didirinya.

“Maksudku adalah, bagaimana dengan ayamnya?” dia menjilat bibirnya sembari melihat kearah api unggun.

“Oh, sudah hampir matang,” kata Meng Hao, juga menjilati bibirnya dan menarik ranting yang dia gunakan untuk menghidupkan api. Si remaja gendut menggunakan kapaknya untuk menggali tanah dan mengeluarkan ayam. Sudah matang sekarang.

Aroma menggiurkan memenuhi udara. Mereka membagi ayamnya menjadi dua bagian dan mulai menyantap dengan lahap.

“semenjak kau berhasil membentuk seberkas energi spiritual,” kata si remaja gendut, bibirnya penuh lemak, “kau dapat menangkap ayam liar. Dibandingkan sekarang, dua bulan pertama disini serasa mimpi buruk…” ini lah kebiasaan barunya, menjilat Meng Hao.

“Banyak orang mendapatkan makanan mereka dihutan belantara, kau saja yang tidak tahu, itu saja.” sambil Meng Hao bicara, dia menggigit paha ayam, membuat bicaranya agak kurang jelas.

“Ai, jika kau mencapai kondensaasi Qi tingkat pertama minggu depan dan menjadi seorang murid luar sekte,” kata si remaja gendut, wajahnya pahit, “lalu apa yang akan aku lakukan?aku tak mengerti satu pun jembatan keledai itu.” Dia melihat kearah Meng Hao penuh harap.

“Lihat gendut, satu-satunya cara kau bisa pulang adalah dengan menjadi murid luar sekte” kata Meng Hao, menjatuhkan kaki ayam dan melihatnya tepat dimatanya.

Si remaja gendut duduk diam sebentar sebelum memberikan anggukan mantap.

Enam hari berlalu. Saat malam. Si remaja gendut sudah tidur, dan Meng Hao duduk bersila diruangannya, bermeditasi. Dia berpikir bahwa selain memotong kau, dia menghabiskan seluruh waktunya tiga bulan terakhir untuk merasakan energi spiritual . Pikirannya kembali ke dua bulan lalu, ketika seberkas Qi pertama muncul dalam tubuhnya. Dia bernapas dalam, menutup matanya dan menyebabkan seberkas energi spiritual bersirkulasi diseluruh tubuhnya. Kemudian, sebuah suara keras bergema dalam kepalanya. Sampai saat ini, dia tidak dapat mnyalurkan Qi keseluruh tubuhnya. Tetapi baru saja, dia berhasil, menyebarkan Qi keseluruh tubuhnya. Dia merasa seolah tubuhnya mengambang.

Disaat bersamaan Meng Hao berhasil mencapai kondensasi Qi tingkat satu, pemuda berwajah kuda yang duduk diluar diatas sebuah batu besar  perlahan membuka matanya. Dia melihat kearah rumah Meng Hao, lalu menutup matanya kembali.

Saat shubuh, dibawah tatapa iri setiap orang di daerah utara tempat tinggal pelayan, Meng Hao berjalan keluar dari rumah yang telah menjadi rumahnya selama empat bulan terakhir. Dia berdiri dihadapan pemuda berwajah kuda.
Remaja gendut tidak ikut bersamanya. Dia didepan pintu menatap Meng Hao, matanya penuh ketetapan hati.

“Kau berhasil mencapai kondensasi Qi tingkat satu dalam empat bulan. Kau tidak menonjol tapi juga tidak terlalu bodoh.” Pemuda berwajah seperti kuda melihat kearahnya, ekspresinya tak lagi dingin. Dengan tenang, dia berkata, “Sekarang kau akan menjadi murid luar sekte, aku harus menjelaskan padamu peraturan disana. Setiap bulan, batu roh dan pil obat akan dibagikan disana, tetapi tidak dilarang mengambil milik orang lain secara paksa, ataupun keroyokan. Ada suatu daerah khusus yang biasa disebut dengan daerah pembunuhan. Kau … kau perlu menjaga dirimu.” Sambil dia selesai berbicara, dia mengangkat tangan kanannya, kemudian sebuah potongan giok muncul mendekat kedepan Meng Hao. Dia menggenggamnya.

“Masukkan energi spiritual kedalam potongan giok itu dan lalu giok itu akan membimbingmu ke paviliun harta di daerah sekte luar. Disanalah kau akan mendaftarkan promosimu.” Pemuda berwajah kuda menutup matanya.

Meng Hao tidak mengatakan apapun. Memberi hormat dengan meggenggam tinjunya, dia berbalik dan melirik ke si remaja gendut. Mereka saling menatap bebreapa waktu, dan Meng Hao merasa perasaan membuncah didadanya. Dia memilih untuk tidak terlarut didalamnya. Dia mencubit potongan giok, yang kemudian berpendar kehijauan, dan perlahan mengambang maju.
Meng Hao mengikuti giok itu, perlahan meninggalkan tempat tinggal pelayan.

Dia melewati jalan sempit yang berawal dari gerbang utama, berjalan jauh dan semakin jauh, kearah kaki gunung. Akhirnya dia mencapai suatu daerah yang dia belum pernah menginjakkan kaki disana sebelumnya selama empat bulan ini.

Sekte Kepercayaan terdiri dari empat gunung utama, terbagi menjadi puncak timur, barat, utara dan selatan, lebih tepatnya. Dikelilingi oleh rantaian pegunungan seolah tiada akhir. At Disetiap setengah jalan kepuncak adalah tempat tinggal para pelayan. Meng Hao ditugaskan di tempat tinggal pelayan utara di gunung utara. Lebih jauh lagi dilindungi oleh mantra. Kemudian didalamnya adalah tempat tinggal murid dalam sekte dan para tetua.

Semua keempat gunung tersebut tersusun seperti itu. Sedangkan dataran diantaranya, adalah rumah tempat tinggal tak terhitung banyaknya murid luar sekte Kepercayaan.

Untuk hal ini, sekte Kepercayaan sedikit berbeda dibanding sekte lainnnya. Bagian luar sekte terletak dikaki gunung, sedangkan pelayan tinggal ditengah jalan menuju keatas. Ini adalah peraturan sekte, tanpa alasan yang jelas yang dibuat oleh pemimpin Kepercayaan.

Dalam jarak tertentu, seluruh tempat seolah dipenuhi oleh kabut tebal. Akan tetapi, ketika melangkahkan kaki kedalam kabut, kabutnya menghilang. Dihadapannya terhampar pemandangan susunan tangga dengan pualam, dari bangunan megah dan jalan yang tersusun oleh batu hijau. Murid luar sekte lalu lalang dengan mengenakan jubah hijau. Beberapa dari mereka melihat kearah Meng Hao saat dia lewat.

Mereka menatap dengan tatapan menghina tanpa sedikitpun niat baik. Dia merasa seperti ditatap oleh hewan-hewan buas, yang menyebabkan nya untuk mengingat kembali ucapan abang tertua berwajah kuda tetang sekte luar.

Tak lama kemudian, dia sampai di  sebuah bangunan hitam dibagian selatan sekte luar. Setinggi tiga tingkat, dan walaupun berwarna hitam, sepertinya berasal dari giok yang diukir, dan hampir tembus pandang.

Sembari Meng Hao mendekat, pintu utama gedung pun terbuka tanpa suara dan keluarlah seorang pria paruh baya keriput . Dia memakai jubah panjang hijau tua, dan wajahnya tampak licik. Dia mengangkat tangannya dengan gerakan menggenggam, dan potongan giok terbang kearah tangannya. Dia melihatnya dan mulai berkata dengan lesu :

“Meng Hao dipromosikan ke sekte luar. Dia akan dianugerahi dengan sebuah rumah, sebuah jubah hijau, satu lembaran roh, dan tas bawaan. Lembaran roh dapat digunakan untuk memasuki paviliun harta untuk mengambil sebuah barang sihir.” Dia melambaikan tangan kanannya, dan sebuah tas abu-abu muncul ditangan Meng Hao.

Dia melihat kearah tas abu-abu itu sebentar, lalu mengingat kembali seorang murid luar sekte yang berpapasan dengannya dijalan tadi. Pria itu memiliki tas seperti ini menggantung dipinggangya.

Pria berwajah licik melihat kearah Meng Hao, dan dapat menerka bahwa dia sama sekali tidak familiar dengan keadaan di sekte luar. Jika tidak, bagaimana bisa dia tidak familiar dengan sebuah tas bawaan? Merasa sedikit kasian padanya, dia dengan dingin berkata, “dengan memasukan spiritual energi kedalam tas, kau bisa memasukkan banyak barang kedalamnya.”

Setelah mendengar ini, Meng Hao memasukkan tas itu dengan sejumlah energi spiritual. Kemudian tas itu mengabur, dan lalu dia menangkap ada sebuah ruang seluas setengah ukuran manusia. Disana, dia dapat melihat sebuah jubah hijaum, sebuah potongan giok, dan beberapa barang lain.

Pada titik ini, Keinginannya terusik. Tas bawaan ini pasti setidaknya seharga seratus keping emas. Ini jelas-jelas buatan tangan orang-orang abadi.

Dia berkonsentrasi, dan potongan giok tiba-tiba muncul ditangannya. Dia meningkatkan konsentrasinya lagi dan menemukan bahwa didalam tas terdapat peta tempat tinggal murid luar sekte. Disalah satu sudut terpencil lah letak rumahnya  .

“Coba nanti periksa,” kata pria berwajah licik dengan dingin. “Paviliun harta sudah buka dan kau belum memasukinya.”

Meng Hao mengangkat kepalanya dan memasukkan tas barang kedalam jubahnya  . melihat kearah pintu paviliun harta yang terbuka, dia menarik napas dalam dan melangkah masuk, penuh antisipasi.
Segera setelah dia masuk, raut wajahnya berubah, dan dia menarik napas dalam.


Monday, March 13, 2017

I Shall Seal the Heavens (Aku akan Menyegel Cakrawala) Bahasa Indonesia Chapter 2

I Shall Seal the Heavens (Aku akan Menyegel Cakrawala)

Pengarang: Er Gen

Chapter 2: Sekte Kepercayaan

Sekte Kepercayaan, terletak diperbatasan negara Zhao, dibagian sudut selatan dari benua Nanshan, dulunya merupakan salah satu dari empat sekte termasyur.  Walupun sekte ini masih terkenal di daerah selatan, tapi sudah mengalami kemunduran dalam tahun-tahun terakhir dan tidak dapat mempertahankan kejayaan yang dulu dimilikinya . Saat ini, dibandingkan dengan sekte lain di negara Zhao, sekte ini hanya bisa dikatakan ada diurutan  bawah.

Sebenarnya, sekte ini dulunya tidak bernama sekte Kepercayaan. Tetapi seribu tahun lalu, seorang pendekar muncul yang menyebabkan sensasi besar didaerah selatan. Dia menyebut dirinya Pemimpin Kepercayaan, dan memaksa untuk mengganti nama sekte menjadi seperti sekarang ini. Dia menginjak-injak seluruh sekte lain di negara Zhao, menjarah harta pusaka mereka, bertahan tak tertandingi selama beberapa lama.

Tetapi keadaan berbeda sekarang. Pemimpin Kepercayaan sudah menghilang hampir 400 tahun. Jika bukan karena fakta bahwa orang tidak tahu dia hidup atau mati , sekte Kepercayaan sudah ditelan oleh sekte lain yang lebih kuat. Sekte ini sudah melewati masa kejayaannya. Memikirikan kurangnya sumber daya di negara Zhao, dan tekanan dari tiga sekte lain, jika mereka ingin merekrut anggota baru, mereka terpaksa harus menculik orang-orang untuk dijadikan pelayan. Tidak mungkin mereka dapat membuka pintu sekte mereka secara terbuka untuk merekrut anggota sekte baru.

Meng Hao mengikuti pria berjubah hijau menapaki jalur kecil diantara puncak-puncak gunung. Daerah sekitar layaknya sebuah taman, dengan batu-batu anuh dan pohon berbentuk ganjil dimana-mana. Diantara pemandangan yang indah, bangunan-bangunan yang dihias mewah dengan atap genteng dari batu giok berdiri tegak diantara awan dan kabut. Meng Hao mendesah berulang kali. Sedihnya, si remaja gendut disebelah nya meratap sepanjang waktu, merusak suasana.

“Aku berakhir, benar-benar berakhir…. Aku ingin pulang kerumah,” gumam si remaja gendut, air mata mulai membasahi wajahnya. “ada kue mantou menunggu dirumah, dan ikan. Kurang ajar, kurang ajar. Aku ingin mewarisi lahan keluarga, menjadi orang tua kaya, dan memiliki beberapa selir. Aku tak ingin menjadi pelayan disini.”

Dia bergumam sambil sesenggukan selama waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan setengah cangkir teh, sampil si pria berjubah hijau menoleh. “ Jika kau menyemburkan omong kosong lagi,” katanya dingin, “Aku akan memotong lidah mu.”
Si remaja gendut tiba-tiba bergetar dengan kencang, matanya bersinar dengan rasa takut, tetapi dia menutup mulutnya.

Ketika dia melihat ini, Meng Hao mulai mempertimbangkan kembali bisa saja situasi ini menjadi indah tetapi malah sebaliknya. Tetapi dia memiliki kepribadian yang gigih, jadi dia mengambil napas panjang dan tetap diam.

Beberapa saat kemudian, ketika mereka mencapai setengah jalan di atas gunung, Meng Hao melihat sebaris bangunan datar mencuat diantara kabut.

Tujuh atau delapan pemuda mengenakan jubah rami duduk diluar bangunan. Mereka terlihat kelelahan. Sambil Meng Hao dan yang lainnya mendekat, pemuda-pemuda itu memperhatikan mereka, tetapi tidak mengucapkan sedikitpun salam.

Tidak jauh, tampak seorang pemuda mengenakan jubah biru muda duduk diatas tebing. Wajahnya panjang, mirip seekor kuda, dan jubahnya jelas nampak lebih mahal dan indah dari yang dipakai oleh pemuda lain. Walaupun wajahnya dingin, ketika pria berjubah hijau datang mendekat membawa Meng Hao, pemuda itu berdiri dan memberi hormat padanya sambil melikukkan tinjunya.

“Hormat, kakak tertua.”

“Mereka adalah pelayan baru,” kata si pria berjubah hijau dengan tidak sabar. “ Tolong atur akomodasi mereka.” Setelah itu, dia berbalik dan pergi, bahkan sekilas pun tidak menatap kearah Meng Hao dan pemuda lainnya.

Setelah dia pergi, pemuda berwajah kuda duduk kembali, bersila dan dengan dingin memandang kearah Meng Hao dan si remaja gendut.

“Ini adalah daerah pelayan utara,” katanya dingin, tanpa emosi. “Sekte Kepercayaan tidak membutuhkan pemalas. Sekarang karena kalian sudah disini, kalian akan bekerja selama tiga puluh tahun, setelah itu baru kalian boleh meninggalkan tempat ini. Jika kalian mencoba kabur, mmm, ada banyak hewan liar di gunung-gunung itu, dan kalian pasti akan mati. Ini ambil seragam kerja kalian. Mulai sekarang, kalian terisolasi dari dunia manusia biasa, dan akan bekerja secara damai sebagai pelayan.”

Si remaja gendut  tambah gemetaran, wajah nya penuh dengan keputus asaan. Meng Hao tetap tenang. Bahkan, dalam dimatanya nampak kilauan yang tak dapat digambarkan. Pria berwajah kuda menyadarinya. Dia sudah mneduduki posisi ini selama bertahun-tahun, dan sudah melihat banyak pemuda ditangkap untuk menjadi pelayan, tetapi belum pernah melihat yang setenang  Meng Hao.

“Jika kalian punya perangai yang baik,” katanya ringan, “kalian bisa saja tidak perlu bekerja selama tiga puluh tahun penuh. Kalian bisa berlatih kanuragan disela waktu istirahat. Jika kalian berhasil mencapai Kondensasi Qi tingkat pertama, lalu kalian akan dipromosikan menjadi murid luar sekte.” Dia mengibaskan lengan baju lebarnya, lalu dua jubah rami muncul didepan Meng Hao dan remaja gendut. Didepan tiap-tiap jubah ada sebuah lencana kayu seukuran jempol, bertuliskan “Pelayan.”

Tambahan lagi, selain jubah itu, ada juga sebuah buku kecil, di sampulnya tertulis tiga buah kata: “Pedoman Kondensasi Qi.”

Segera setelah Meng Hao membaca kata-kata itu, dia mulai bernapas berat. Dia menatap buku kecil itu dan mengingat kembali pembicaraan pria berjubah hijau, membicarakan wanita berwajah dingin, pria-pria berjubah hijau menyebutkan tentang Kondensasi Qi tingkat ketujuh.

“Kita bisa menjadi murid luar sekte ketika kita mencapai tingkat satu, tatapi wanita itu sudah mencapai tingkat tujuh … apa itu Kondensasi Qi? Mungkin itu cara untuk menjadi seorang yang abadi, seperti yang mereka bilang dicerita dongeng.”

Jika ini lah bayaran atas pekerjaanya, baiklah, mungkin ini bukan uang, tetapi ini akan seharga 100 keping emas di luar sana. Meng Hao bertambah semangat. Dia mengambil jubahnya dan menggunakannya untuk membungkus lencana dan buku kecil itu.

“Rumah ketujuh disebelah timur, disitu kau tinggal. Mulai besok, pekerjaan kalian adalah memotong kayu. Sepuluh batang perorang, setiap hari. Kalian tidak diijinkakan untuk makan sampai selesai memotong kayu.” Dia lalu menutup matanya.

Bernapas dalam, Meng Hao meniru si pemuda dan memberi hormat dengan melikukkan tinjunya, lalu berjalan kearah rumah, diikuti oleh si remaja gendut. Bangunan itu adalah tempat tinggal berbentuk siheyuan dengan halaman yang sudah diperluas berkali-kali. Mengikuti petunjuk yang ada, mereka menemukan rumah ketujuh, lalu membuka pintunya dan masuk.

Ruangannya tidak besar. Berisi sebuah meja dan dua tempat tidur kecil, dan walaupun sederhana, cukup bersih dan rapi. Remaja gendut duduk disalah satu tempat tidur, lalu, tidak dapat menahan lagi tangisnya pun mulai meledak.

Dia berusia sekitar 12 atau 13 tahun, dan dia menangis sangat keras. Pasti suaranya menggema sampai keluar.

“Ayahku adalah tuan tanah, dan aku seharusnya jadi seorang tuan tanah juga. Aku seharusnya bukan jadi pelayan.” Dia sepertinya benar-benar putus asa, dan tubuh kecil tambunnya bergetar.

“Berhenti menangis,” kata Meng Hao, mencoba untuk menenangkannya. “Coba pikir. Tidak terlalu buruk kok berada disini. Kita bekerja untuk orang-orang abadi. Berapa banyak orang yang akan iri pada kita jika mereka tahu?” Dia dengan cepat menutup pintu.

“Aku tak mau bekerja untuk orang lain,” dia menjawab. “Pernikahanku sudah diatur dan kado pertunangan sudah dikirim. Wanita ku yang malang belum menikahiku, tapi sudah menjadi janda.” Bertambah kuat tangisnya, bertambah patah hati juga dia

Suatu ekspresi aneh muncul di wajah Meng Hao. Remaja gendut ini masih muda, pikirnya, aku tak percaya dia sudah ditunangkan dengan seorang wanita untuk menjadi istrinya, bahkan dia pasti belum pernah merasakan sentuhan tangan seorang wanita. Dia membuang napas panjang, betapa menakjubkannya jadi orang kaya pikirnya. Keluarga remaja gendut ini sangat kaya sehingga dia tidak perlu khawatir tentang makanan atau pakaian. Sedangkan aku tak punya apa-apa. Bahkan setelah menjual rumah warisan ku tahun lalu, aku masih berhutang banyak uang pada pelayan Zhou.

Memikirkan uang yang belum dilunasinya membuatnya tertawa. Sekarang karena dia disini, Zhou bisa datang menagih uang itu jika dia cukup kuat, jika tidak, dia mungkin sudah mati ketika Meng Hao keluar dari sekte.

Bertambah keras dia berpikir tentang tempat ini, bertambah senang hatinya. Dia tidak perlu memikirkan tentang uang, tempat tinggal atau makanan. Dia bahkan mendapat bayaran senilai ratusan keping emas, dan itu bahkan sebelum ia mulai bekerja. Berpikir bahwa ini adalah tempat tinggal orang-orang abadi, bisa dikatakan bahwa dia tanpa sengaja telah diselamatkan dari kehidupannya yang mengenaskan.

Tangisan si remaja gendut mulai membuatnya gusar. Mencoba tidak menghiraukannya, dia mengambil buku pedoman dari dalam jubah raminya dan mulai membaca. Setelah membaca baris pertama dari halaman pertama, dia merasa terkejut.

“Seseorang harus punya sesuatu untuk bergantung. Jika kau seorang manusia biasa yang menginginkan kekayaan dan jabatan, jika kau seorang pendekar yang menginginkan hidup yang bebas dari kekhawatiran, bergabunglah dengan sekte Kepercayaan ku. Kau bisa bergantung pada ku.” Itu adalah pengantar dari pedoman itu,dan ditandatangani oleh Pemimpin Kepercayaan sendiri.

Walaupun itu hanya beberapa buah kata, tetapi dipenuhi oleh kekuatan yang tak tergambarkan. Itu bermakna sebuah undangan dan gambaran kekuatan dari sekte Kepercayaan. Meng Hao merasa kaku, dan lalu, segala hal mendadak masuk akal.

“Sekte Kepercayaan. Apakah ini arti dari sekte? Orang-orang harus bergantung pada sesuatu untuk bertahan; ketika mereka bergabung dengan sekte Kepercayaan, mereka akan menjadi kaya, berkuasa dan bebas dari kekhawatiran.” Ini bertambah masuk akal saja. Dia menyadari bahwa jika dia memiliki seorang pejabat untuk menjadi bekingannya, dia tidak akan gagal ujian tiga kali berturut-turut . dia mendesah, rasa hormatnya bertambah pada Pemimpin Kepercayaan, yang dia sebenarnya belum pernah temui sama sekali. Dengan satu kalimat itu, sepertinya sebuah pintu dalam hidupnya tiba-tiba terbuka.

“Dengan kata lain, aku harus menemukan seseorang untuk bergantung selama aku disini. Jika aku berhasil, aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun.” Matanya bertambah terang sembari dia melanjutkan membaca pedoman itu. Segera, dia lupa waktu, dan tidak menyadari bahwa si remaja gendut masih menangis keras disampingnya.

Si remaja gendut menangis sendiri dalam tidurnya ditengah malam, sampai akhirnya berganti suara dengkurnya yang mulai  membahana seperti guntur. Meng Hao dengan tidak ikhlas akhirnya menutup manual. Walaupun dia merasa sangat lelah, matanya dipenuhi oleh semangat dan energi.

“Buku ini tidak senilai dengan 100 emas, ini senilai 1000!” dia berkata pada dirinya. Untuk seseorang yang selalu bermimpi untuk menjadi pejabat yang kaya, sesuatu yang senilai 1000 emas sangatlah berharga lebih dari apapun kecuali hidupnya.

Dalam kebersemangatannya, dia menyadari bahwa dengkuran si remaja gendut sudah berhenti. Dia melihat pemuda itu duduk ditempat tidur dan mengayunkan lengannya sambil mengomel.

“Aku akan menghajarmu sampai mati! Beraninya kau mencuri mantou! Aku akan mengigitmu sampai mati! Beraninya kau mencuri istriku!” Sambil dia berbicara, dia beranjak dari tempat tidur, matanya masih tertutup, mengayunkan tinjunya dengan marah. Lalu yang menakjubkan adalah, dia mulai menggenggam meja dan mengigit keras-keras sudutnya dengan mulutnya, sampai meninggalkan bekas gigitan. Lalu dia kembali tidur dan mulai mendengkur.

Meng Hao memperhatikannya sebentar, hanya untuk mengkonfirmasi bahwa dia memang sedang tidur sambil berjalan saat ini. Lalu dia melihat lagi ke arah bekas gigitan, dan menyadari bahwa dia tidak boleh menantang remaja gendut itu saat dia sedang tidur. Dia bergeser darinya, lalu melihat kearah buku pedoman lagi, merasa bersemangat.

“Kondensasi Qi tingkat sembilan adalah jalan untuk menjadi abadi. Bekerja untuk mereka, aku punya kesempatan untuk menjadi abadi juga. Itu adalah bayaran terbesar yang bisa kudapatkan. Jika aku menjadi abadi, aku pasti punya kesempatan untuk menjadi kaya nantinya.” Meng Hao mencengkram buku pedoman, matanya bersinar dengan terang. Dia akhirnya menemukan cara yang lain untuk menjadi kaya selain dengan belajar dan ikut ujian.

Pada saat itu, “Banngg” suara pintu ditendang dengan keras, dan suara “harumph” jelas terdengar.


Sunday, March 12, 2017

I Shall Seal the Heavens (Aku akan Menyegel Cakrawala) Bahasa Indonesia

I Shall Seal the Heavens (Aku akan Menyegel Cakrawala)
Pengarang: Er Gen
“Aku akan menyegel cakrawala” adalah salah satu cerita beraliran xianxia yang populer di Cina. Telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh deathblade di wuxiaworld.com, kisah ini menceritakan tentang seorang pelajar muda yang gagal bernama Meng Hao, yang terpaksa mengikuti sekte pendekar abadi. Di dunia pendekar, yang kuat memangsa yang lemah, yang dipakai adalah hukum rimba. Meng Hao harus beradaptasi untuk bertahan. Dan meskipun begitu, dia tidak pernah lupa ajaran confucius dan daois yang dia dalami. Ditambah lagi dengan kepribadiannya yang keras kepala, menuju jalan menjadi pahlawan sejati. Apa arti dari “menyegel cakrawala?” ini adalah rahasia yang kamu akan ungkap bersama Meng Hao!
Chapter 1: Pelajar Meng Hao
Negara Zhao adalah sebuah negara kecil. Seperti negara kecil lainnya di Benua Nanshan, penduduknya mengagumi negeri Tang yang masyur  didaerah timur, dan mereka mengagumi kotanya, Chang’an  . Tidak hanya sang raja, seluruh pelajar di negeri ini pun juga sama. Mereka dapat melihat kota tersebut, hampir seolah mereka sedang berdiri diatas Menara Tang di ibukota, oh betapa jauhnya.
Bulan April kali ini tidak terlalu dingin dan juga tidak terasa panas menyengat. Angin lembut bertiup didaratan, menghantarkan suara seruling Qiang Di padang pasir utara, bertiup diseluruh daratan Tang yang masyur. Dibawah langit yang temaram, menghantarkan kabut berdebu, lalu memutar, memilas hingga mencapai gunung Daqing di negara Zhao. Lalu jatuh menuju seorang pemuda yang duduk disana diatas puncak gunung.
Dia adalah seorang pemuda yang ramping, menggenggam sebuah botol kundur dan memakai sebuah jubah pelajar biru yang tampak bersih. Dia terlihat berumur sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Dia tidak tinggi, dan kulitnya agak gelap, tapi matanya yang terang tampak berkilau oleh kecerdasan. Akan tetapi, seluruh kecerdasannya sepertinya  tersamarkan oleh wajahnya yang mengkerut. Dia tampak tersesat.
“Gagal lagi…”Gumamnya. Namanya adalah Meng Hao, seorang pelajar biasa dari wilayah Yunjie, yang terletak dikaki gunung. bertahun-tahun yang lalu, kedua orang tuanya menghilang, dan tidak meninggalkan banyak harta. Pendidikan sangat mahal, hingga dia hampir benar-benar jatuh miskin.
“Aku sudah mengikuti ujian kekaisaran sebanyak tiga kali berturut-turut. Selama itu, aku sudah membaca buku-buku yang ditulis oleh orang bijak hingga rasa ingin muntah. Mungkin ini memang bukan jalan untukku.” Dipenuhi dengan rasa pengutukan diri, dia melihat kearah botol kundur, matanya suram.
“Mimpiku untuk jadi pejabat dan menjadi kaya raya serasa bertambah jauh saja. Aku juga sebaiknya melupakan mencoba untuk mencapai negeri Tang yang masyur… Betapa tak bergunanya menjadi seorang pelajar.” Dia tertawa dengan pahit. Duduk disana dipuncak gunung yang sunyi, menatap botol kundur ditangannya, dia terlihat bertambah tersesat. Dia mulai merasa takut.  Apa yang akan dia lakukan dimasa depan?kemana dia akan pergi?
Mungkin seorang pejabat tinggi akan tertarik padanya, atau bahkan seorang gadis muda yang cantik. Ataukah dia akan terus mengikuti ujian kekaisaran setiap tahun?
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dia hanyalah seorang pemuda, dan perasaan merasa tersesat ini sudah melahapnya layaknya mulut raksasa yang tak terlihat. Dia benar-benar merasa takut.
“Bahkan guru-guru di kota hanya dapat menghasilkan beberapa potong perak. Itu jauh lebih sedikit dari toko tukang kayu paman Wang. Jika saja aku menyadarinya lebih awal, aku bisa belajar tehnik bertukang darinya. Setidaknya aku tidak akan kelaparan seperti sekarang.” Dia terdiam sebentar.
“Aku tidak punya banyak makanan ataupun uang tersisa dirumah. Aku berhutang pada pelayan Zhou tiga potong perak. Apa yang akan kulakukan?” Dia mendongakkan kepalanya dan melihat kelangit, biru dan agung. Langit tampak sangat luas hingga batasnya pun tak terlihat. Tampak benar-benar sama dengan nya yang tak bisa melihat masa depannya.
Beberapa saat kemudian, Meng Hao menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan secarik kertas dari jubahnya. Dia baca perlahan, lalu kertas tersebut dimasukkan kedalam botol, sambil dia berdiri dan melempar botol tersebut kebawah gunung.
Dibawah gunung tersebut terdapat sebuah sungai besar yang tidak pernah membeku selama musim dingin, dan katanya mengalir sampai kenegeri Tang yang masyur.
Meng Hao berdiri dipuncak gunung, menonton botol kundur yang hanyut jauh mengikuti arus sungai. Dia menatap tidak berkedip. Untuk sesaat, dia seperti melihat ibunya, dan masa-masa bahagia masa kecilnya. Botol kundur itu membawa mimpi-mimpinya, keinginannya, dan harapannya untuk masa depan. Mungkin suatu hari seseorang akan mengambil botol itu, membukanya dan membaca catatan itu.
“Terserah apapun yang aku lakukan, baik itu belajar ataupun bekerja, aku akan tetap menjalani hidup.” Ini adalah kepribadiannya: cerdas dan bertekad bulat. Jika dia tidak seperti itu, dia tidak akan bisa bertahan setelah orang tuanya pergi.
Dia mengangkat kepalanya kearah langit, tatapan keras kepala di matanya bertambah dalam. Dia akan menuruni gunung.
Pada saat yang sama, dia mendengar suara lemah datang dari sekitar jurang. Suara itu seperti berbaur bersama angin. Ketika suara itu melewati telinga Meng Hao, benar-benar terlalu redup untuk didengar.
”Tolong… tolong…”
Meng Hao berhenti sesaat, terkejut, lalu mendengarkan dengan seksama. Ketika dia berkonsentrasi, suara minta tolong itu terdengar semakin jelas.
“Tolong…”
Dia berjalan beberapa langkah kedepan hingga dia hampir mencapai tepi jurang. Ketika dia mengamati ditepi jurang, dia melihat seseorang, tubuhnya menempel keluar dari celah jurang. Wajah pucat penuh rasa takut dan  putus asa, dia berteriak minta tolong.
“Kau… kau Meng Hao, kan? Tolong, Pelajar Meng! Tolong aku!” ternyata dia adalah seorang remaja. Segera setelah dia melihat Meng Hao, dia merasa terkejut dan gembira, karena menemukan harapan dalam situasi putus asa tersebut.
“Wang Youcai ?” Mata Meng Hao’ melebar ketika dia melihat si pemuda. Dia adalah anak lelaki paman Wang, yang memiliki toko kayu di kota. “Bagaimana kau bisa berakhir disini?”
Meng Hao melihat kearah celah. Jurang itu sendiri juga cukup curam, dan sepertinya tidak mungkin untuk menuruninya. Sedikit saja kecerobohan akan megirim pemanjatnya jatuh ke sungai.
Mengingat kuatnya arus sungai, jika jatuh ke sungai, kemungkinan tenggelam sekitar sembilan puluh persen.
“Tidak hanya aku, ada beberapa orang lain dari kota sekitar,” ucap Wang Youcai. “Kami semua tersangkut disini. Saudara Meng, tolong jangan hanya berbicara, tolong kami keluar.” Mungkin dia sudah tergantung di celah terlalu lama. Tangannya menggengam di udara, dan jika saja bukan karena teman senasibnya, yang menggenggam pakaiannya, dia sudah tergelincir dan jatuh ke jurang. Wajahnya berubah pucat karena ketakutan.
Meng Hao menyadari bahayanya. Tetapi dia sudah memanjat gunung sendirian hari ini, dan tidak punya tali. Bagaimana dia bisa menyelamatkan mereka? Pada saat itu, dia berbalik dan menyadari bahwa sisi gunung di tutupi oleh akar-akar rotan.
Karena kelemahannya, butuh waktu dua jam baginya untuk menemukan rotan yang cukup panjang. Dengan napas terengah, dia menyeret akar rotan itu kejurang. Sambil memanggil nama Wang, dia membungkuk dan menurunkan rotan tersebut ke bawah jurang.
“Kau masih belum memberitahuku bagaimana kau bisa berada dibawah sana,” Kata Meng Hao sambil dia mengulur akar rotan.
“Dengan terbang!” Bukan Wang Youcai yang menyahut, tetapi pemuda lain yang tersangkut di celah disampingnya. Bocah ini terlihat cerdas dan bersemangat, dan berbicara dengan suara keras.
“Omong kosong! Kau bisa terbang?” olok Meng Hao, sambil menarik akar rotan keattas sedikit demi sedikit. “Jika kau bisa terbang kebawah sana, lalu kenapa kau tidak terbang kembali keatas?”
“Jangan dengarkan omong kosongnya,” kata Wang Youcai, jelas-jelas bimbang kalau Meng Hao tidak akan menurunkan akar rotan kebawah. “Kami ditangkap oleh seorang wanita terbang. Dia bilang dia akan membawa kami ke suatu sekte untuk menjadi pelayan.”
“Omong kosong lagi?” kata Meng Hao dengan acuh. “Hanya orang abadi dalam legenda yang bisa melakukan itu. Siapa yang akan percaya?” Dalam buku yang sudah dibacanya, ada cerita tentang orang yang menjadi kaya setelah bertemu orang abadi, tetapi itu semua hanya kebohongan.
Ketika rotan mencapai celah, Wang menangkapnya. Tetapi lalu, Meng Hao tiba-tiba merasakan ada angin dingin dipunggungnya. Dari suhu disekitarnya, serasa seperti musim dingin telah kembali. Dia menggigil. Dia perlahan menoleh kebelakang, lalu berteriak dan melangkah kedepan kearah kekosongan, lalu jatuh kejurang.
Dia melihat seorang wanita dengan jubah perak panjang dan wajahnya yang pucat, berdiri disana menatap kearahnya. Tidak mungkin untuk memperkirakan usianya. Dia sangat cantik, tetapi memancarkan aura dingin yang membuat seseorang merasa dia baru saja merangkak keluar dari kuburan.
“Kadang-kadang jika kau menemukan sesuatu dengan kualitas tertentu, itulah nasib.”
Ketika suara tersebut mengenai telinganya, serasa seperti suara tulang yang bergesekkan. Wanita ini seperti memiliki suatu kekuatan aneh, dan ketika Meng Hao melihat kedalam matanya, seluruh tubuhnya serasa dingin seperti es, seperti wanita itu dapat melihat kedalam dirinya. Serasa dia tak dapat menyembunyikan apapun dari wanita itu.
Suaranya masih mengambang diudara, dia mengguncang lengan bajunya yang lebar, dan tiba-tiba, sebuah hembusan angin kehijauan menyambut Meng Hao. Dia terbang kebawah jurang dengannya. Pikirannya mendadak kosong.
Ketika mereka mencapai celah, wanita itu melambaikan tangannya dan melemparkannya kedalam. Sedangkan wanita itu, dia berhenti bergerak, begitu juga angin hijau tersebut. Wang and ketiga temannyaburu-buru berbalik sambil ketakutan.
Wanita itu berdiri disana, tanpa sepatah kata pun. Dia mengangkat kepalanya dan menatap kearah akar rotan.
Meng Hao sangat gugup hingga dia mulai gemetaran. Dia lalu berdiri, melihat sekilas kearah sekeliling. Celah itu tidak terlalu luas, dan cukup sempit malah. Bahkan hanya untuk beberapa orang didalam, tidak ada cukup tempat.
Pandangan matanya jatuh ke araha Wang dan dua orang pemuda lain. Satunya adalah si pintar; sedangkan satunya tampak bersih dan gemuk. Keduanya menggigil, terlihat seperti mereka akan menangis kapan saja karena takut.
“Aku kekurangan satu orang lagi,” kata si wanita pucat.  Sekarang dia melihat kearah Meng Hao daripada kearah rotan. “aku akan meletakkanmu kedalam bersama mereka”
“Siapa kau?” tanya Meng Hao, menutupi ketakutannya. Dia adalah seorang yang terpelajar dan memiliki kepribadian yang kuat. Walaupun merasa takut, dia mengontrol dirinya dan tidak panik.
Wanita itu tidak berkata apapun. Dia mengangkat tangan kanannya dan melambai, dan angin kehijauan muncul kembali. Lalu mengangkat semua pemuda itu, lalu mereka keluar dari sana bersama wanita itu, terus terbang tinggi kearah langit. Mereka menghilang. Yang tersisa hanyalah gunung Daqing. Yang berdiri disana, tegak dan tinggi, membaur dalam kegelapan yang temaram.
Darah mengering dari wajah Meng Hao.  Dia melihat dirinya didalam angin hijau, melintasi langit. Bersamaan dengan dia terbang, angin bertiup kedalam mulutnya, membuat nya tidak bisa bernapas. Sebuah kata muncul didalam benaknya.
“Orang abadi?” Dia menahan napasnya selama kira-kira bernapas normal sebanyak sepuluh kali, sampai dia tidak mampu bertahan lagi. Lalu dia pingsan.
Ketika dia membuka matanya, dia menemukan bahwa mereka telah mendarat diatas sebuah podium berubinkan batu hijau, sampai setengah jalan menuju kearah gunung. Mereka dikelilingi oleh gunung yang memutari mereka. Awan dan kabut mengapung dimana-mana; ini jelas bukan dunia manusia biasa. Puncak-puncak gunung yang indah disekitar terlihat sangat aneh.
Wang dan pemuda lainnya terbangun, ketakutan dan gemetaran. Mereka menatap kearah punggung si wanita.
Berdiri dihadapannya dua orang pendekar memakai jubah hijau panjang. Mereka tampaknya berusia dua puluhan. Mereka memiliki mata cekung dengan pupil hijau yang mengilhamkan rasa takut.
“Kerja yang bagus, kakak Xu,” kata salah seorang dari mereka, suaranya menyanjung. “Kau menemukan empat orang bayi muda yang berbakat.”
“Bawa mereka ketempat tinggal pelayan” kata si wanita, wajahnya dingin, tanpa melihat kearah Meng Hao dan yang lain. Tiba-tiba, seluruh tubuhnya berubah. Dia menjadi pelangi lalu menghilang diantara pegunungan.
Saat ini, Meng Hao sudah memulihkan ketenangannya. Dia menatap, kaku, kearah tempat wanita itu menghilang. Sebuah ekspresi muncul diwajahnya yang belum pernah muncul selama enam belas tahun. Darahnya mendidih.
“Pelayan?” Pikirnya. “Jika bekerja untuk  orang abadi, bayarannya pasti bagus.” Sekarang dia tahu orang-orang itu tidak ingin membunuh mereka, dia pun mencoba melanjutkan hidupnya.
“Kak Xu sudah mencapai Kondensasi Qi level ketujuh,” ratap pendekar kedua. “Pendeta Sekte menganugrahkan sebuah panji angin padanya, yang berarti walaupun dia belum mencapai tahap Pendirian Fondamen, dia sudah bisa terbang.” Dia melihat dengan sombong kearah Meng Hao dan lainnya.
“Kau dan kau,” dia berkata sambil menunjuk Wang dan si pemuda pintar. “Ikuti aku ke tempat tinggal pelayan di bagian selatan.”
“Tempat apa ini?” tanya Wang, suara dan tubuhnya gemetaran saat orang abadi menunjuk kearahnya.
“ Sekte Kepercayaan.”